. . .
  • alan Gegerkalong Girang No.67, Kec. Sukasari, Kota Bandung
  • 022 200-6655

Terbiasa Berterima Kasih

Saudaraku, ketika berinteraksi dengan orang lain, kita juga akan banyak menemukan orang-orang baik. Orang yang berbuat baik kepada kita, berjasa atas prestasi kita, memberi kita hadiah, atau sekadar membayarkan jajan kita. Begitu banyak orang baik di sekitar kita. Orangtua kita, guru-guru, dan teman-teman kita. Betapa ini adalah hal yang penting untuk disyukuri.

Nah, salah satu cara bersyukur kepada Allah adalah dengan cara berterima kasih kepada orang yang sudah berbuat baik kepada kita, serta membalas kebaikan mereka. Rasulullah saw bersabda, “Barangsiapa tidak berterima kasih kepada manusia, maka dia tidak bersyukur kepada Allah.” (HR. Tirmidzi)

Tidaklah Rasulullah mewasiatkan untuk berterima kasih dan membalas kebaikan orang lain terhadap kita, kecuali pasti terdapat kebaikan di dalamnya. Berterima kasih dan membalas kebaikan orang lain adalah bentuk syukur kepada Allah, dan bersikap sebaliknya adalah tabiat orang yang kufur terhadap nikmat-Nya.

Dalam hadisnya yang lain, Rasulullah saw bersabda, “Barangsiapa yang telah berbuat kebaikan kepada kalian, hendaklah kalian membalasnya. Jika kalian tidak mampu membalasnya, maka berdoalah untuknya, hingga kalian tahu bahwa kalian telah bersyukur. Allah adalah Dzat Yang Mahatahu Berterimakasih dan sangat cinta kepada orang-orang yang bersyukur.” (HR. Thabrani)

Saudaraku, ada dua hal yang penting untuk kita ingat. Pertama, kebaikan orang lain kepada kita. Dan kedua, keburukan kita kepada orang lain. Namun ada dua hal juga yang perlu kita lupakan. Pertama, kebaikan kita kepada orang lain. Dan kedua, keburukan orang lain kepada kita.

Mengapa demikian? Karena yang membahayakan diri kita bukanlah perbuatan orang lain. Demikian juga yang menjadi kebaikan terhadap diri kita bukanlah perbuatan orang lain. Yang menyebabkan datangnya keburukan dan kebaikan terhadap diri kita adalah perbuatan kita sendiri.

Kalau kita senantiasa mengingat keburukan kita terhadap orang lain, maka sikap yang akan lahir adalah kita senantiasa mawas diri untuk menjaga lisan dan sikap dari perbuatan buruk terhadap orang lain. Jika pun kita terlanjur bersikap demikian, maka kita segera bertobat dan meminta maaf kepada orang yang bersangkutan.

Ketika kita mengingati kebaikan orang lain terhadap diri kita, maka membuat kita senantiasa bersyukur kepada Allah, dan berterima kasih kepada orang bersangkutan. Kita pun termotivasi berbuat baik kepada orang tersebut meski ia tidak memintanya.

Perbuatan baik yang tulus akan melahirkan rasa kedekatan dan keakraban. Kebaikan yang datang dari hati akan diterima dengah penerimaan dari hati pula. Oleh karena itu, Rasulullah bersabda, “Saling memberi hadiahlah kalian, niscaya kalian saling mencintai.” (HR. Bukhari, Baihaqi, Abu Ya’la)

Dalam hadis yang lain Rasulullah bersabda, “Saling berjabat tanganlah kalian, niscaya akan hilang rasa dengki, dan saling memberi hadiahlah kalian, niscaya kalian akan saling mencintai dan akan lenyap rasa permusuhan.” (HR. Malik)

Rasulullah sangat menganjurkan kepada kita untuk saling memberi, saling menghadiahi meskipun itu dengan sesuatu yang dalam pandangan manusia adalah kecil atau sederhana. Dalam sebuah pesan, Rasulullah mewasiatkan supaya kaum muslimah itu saling berkirim hadiah meski hanya dengan sepotong kaki kambing.

Rasulullah saw bersabda, “Wahai wanita-wanita muslimah, jangan sekali-kali seorang tetangga menganggap remeh untuk memberi hadiah kepada tetangganya walaupun hanya sepotong kaki kambing.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Saling memberi dan membalas kebaikan akan melahirkan rasa cinta dan saling mencintai di dalam hati kita. Hati yang saling terpaut, rasa saling mencintai, merupakan modal penting untuk menjaga ukhuwah di antara kita. Jika kita tidak saling mencintai, saling menyayangi lillaahita’ala, maka bagaimana kita bisa saling mempedulikan satu sama lain? Bagaimana kita bisa saling memberdayakan satu sama lain?

Rasa terima kasih bisa kita ucapkan dan bisa juga diekspresikan dengan perbuatan. Misalnya, kita meminjam motor teman untuk suatu keperluan. Ketika hendak kita kembalikan, maka kita cuci dulu motornya, isi dulu bensinnya bahkan hingga penuh. Meski teman kita tidak mengharapkan balasan kebaikan seperti ini dari kita, namun akan ada rasa senang di dalam hatinya. Di hari yang lain, jangankan kita mintai bantuan, jutsru dia dengan tulus hati menawarkan bantuannya pada kita. Demikianlah, sudah menjadi tabiat manusia untuk mencintai kebaikan.

Berterima kasih juga bisa dilanjutkan dengan mendoakan orang yang berbuat baik kepada kita. Selain kita balas kebaikannya, kita doakan juga supaya kebaikan senantiasa menyertainya. Rasulullah bersabda, “Dan barangsiapa yang berbuat baik kepada kalian maka balaslah (kebaikannya) dengan kebaikan yang setimpal, dan jika kalian tidak mendapat sesuatu untuk membalasnya maka berdoalah untuknya sampai kalian merasa sudah membalas kebaikannya.” (HR. Ahmad)

Dalam kisah berikut ini Rasulullah mencontohkan berterima kasih dengan cara mendoakan orang yang berbuat baik kepada kita. Dalam sebuah riwayat ‘Abdullah bin ‘Abbas menceritakan, “Suatu ketika, Rasulullah masuk ke kamar kecil (untuk membuang hajat). Maka, aku menyediakan air bersih untuk beliau pakai berwudu. Ketika beliau selesai dari hajatnya, beliau bertanya, “Siapakah yang telah meletakkan (air wudu) ini?” Kemudian beliau diberitahu bahwa akulah yang telah melakukannya. Maka, beliau (membalas kebaikanku dengan) berdoa, “Ya Allah, berikanlah dia (Ibnu ‘Abbas) pemahaman dalam agama”. (HR. Bukhari dan Muslim). Masya Allah! (KH. Abdullah Gymnastiar)

LEAVE A COMMENT