. . .
  • Jl. Gegerkalong Girang No.67 Bandung
  • 022 - 2006655
  • Jl. Gegerkalong Girang No.67 Bandung
  • 022 - 2006655

Sejarah Nabi dan Rasul: Kisah Hidup Sarat Makna dan Manfaat

Dan semua kisah dari rasul-rasul Kami ceritakan kepadamu, ialah kisah-kisah yang dengannya Kami teguhkan hatimu; dan dalam surat ini telah datang kepadamu kebenaran serta pengajaran dan peringatan bagi orang-orang yang beriman. (QS. Hud [11]: 120)

Seseorang yang mengetahui makna dan manfaat sesuatu, ia tidak diam/cuek apalagi menyia-nyiakannya. Di saat ia dihadapkan pada sesuatu yang lain, maka ia berusaha keras membandingkan makna dan manfaat dari pilihannya tersebut, karena tidak mau mendapatkan pilihan yang salah.

Sebagai contoh, seseorang yang ditawari pilihan berupa dua benda (berwarna kuning), yaitu emas dan pisang. Sudah jelas, ia memilih emas dibanding pisang (walau digoda dan dirayu dengan berbagai cara dan alasan), karena pengetahuannya terhadap emas jauh lebih bermakna daripada pisang. Berbeda dengan makhluk Allah yang lain (yaitu kera), ia tidak membandingkan dulu (karena ketidaktahuan makna dan manfaatnya), sehingga otomatis memilih pisang.

Demikianlah gambaran kondisi siapa pun. Ia merespon dan bergerak sesuai makna serta manfaat yang diketahuinya, tidak lebih dan tidak kurang. Begitupun respon seseorang terhadap sejarah Nabi dan Rasul (yang Allah sampaikan dalam al-Quran). Ia bisa saja antusias dan berusaha keras memahami dan mempelajarinya, namun bisa juga cuek dan diam seribu bahasa tanpa memberikan sinyal positif sedikit pun. Semuanya tergantung pengetahuan makna dan manfaat sejarah Nabi dan Rasul yang dimilikinya.

Makna Sejarah Nabi dan Rasul

Makna sejarah Nabi dan Rasul bukanlah sejarah biografi tentang seorang tokoh yang menjabat sebagai Nabi atau Rasul. Keliru bila ada yang memahami demikian. Karena dalam surah al-Fath [48]: 28, Allah menyampaikan tujuan diutusnya Nabi dan Rasul. Yakni karena ada misi yang harus dijalankan olehnya. Maka, sebanyak dan sebesar apapun bekal dan modal yang dimiliki para Nabi dan Rasul, adalah agar misi Nabi dan Rasul ini bisa berjalan dan terlaksana.

Dengan demikian, eksistensi para Nabi dan Rasul tidak boleh sebatas data berisi nama, waktu, tempat, dan data mati lainnya. Melainkan harus berisi gambaran kondisi dan ragam usaha yang dilakukan mereka untuk mengubah masyarakat (dalam kondisi apa pun), agar senantiasa sesuai dengan kehendak dan skenario Allah.

Atas kepentingan itulah, maka Allah tidak banyak memunculkan data mati di dalam kalam-Nya. Namun, menginformasikan berbagai hal dan keadaan yang dengannya manusia bisa memotret dan memahami perjalanan hidup yang Allah kehendaki. Atas kepentingan itu, Allah tetapkan bahwa sejarah Nabi dan Rasul adalah suri teladan yang harus diuswah manusia. Tentunya sulit bagi seseorang bila menguswah tanpa tahu manfaatnya.

Manfaat Sejarah Nabi dan Rasul

Dalam surah Hud [11]: 120, Allah menyampaikan ada tiga  manfaat sejarah Nabi dan Rasul. Ketiga manfaat itu adalah: 1) sebagai peneguh hati, 2) sebagai pelajaran, 3) sebagai peringatan.

Sejarah Nabi dan Rasul mampu menjadi peneguh hati karena memberikan pengetahuan tentang gambaran keistiqamahan Rasul (dalam menjalani hidup sesuai skenario Allah). Bahkan, dunia yang penuh dengan dinamika ini tidak hanya mampu dihadapi dan dijalani oleh Nabi dan Rasul, namun lebih dari itu. Mereka mampu mengisi hidup penuh perjuangan dan kesabaran untuk fokus pada satu tujuan hidup, yaitu menggapai rida-Nya.

Sejarah Nabi dan Rasul mampu menjadi pelajaran karena di dalamnya terkandung tahapan-tahapan yang dilakukan Nabi dan Rasul dalam menggulirkan misinya. Nabi dan Rasul (dalam berbagai kondisi apa pun), ternyata bisa keluar dari ujian hidup sebagai pemenang, dan mampu menyelesaikan setiap masalah yang dihadapinya.

Sejarah Nabi dan Rasul mampu menjadi peringatan, karena Nabi dan Rasul selalu komitmen dan tidak pernah mencederai sedikit pun apa yang Allah tetapkan. Sehingga mereka senantiasa istiqamah mengajak dan mencetak seluruh manusia agar menjadi hamba Allah yang diridai-Nya. Mereka tegas dan tidak memberikan toleransi sedikit pun atas berbagai keyakinan dan pola hidup yang salah. Sehingga bila seseorang tidak menjadi teman Rasul, maka ia menjadi musuh Rasul. Wallahu a’lam. (Ust. Edu)

LEAVE A COMMENT