. . .
  • alan Gegerkalong Girang No.67, Kec. Sukasari, Kota Bandung
  • 022 200-6655

Rida Ibu

Saya mengenal Wendy sebagai sahabat lama. Orangnya ramah dan selalu mengesankan. Sayangnya, di usia yang beranjak dewasa ia belum bisa membaca al-Quran dan salat. Kedekatan saya dengannya tidak disia-siakan oleh Wendy. Setiap tiga hari dalam sepekan, ia datang ke rumah sambil membawa tas kecil yang di dalamnya ada peci dan buku Iqra’. Saya ajarkan pelan-pelan bagaimana bacaan al-Quran dan tata cara salat. Hampir di setiap pertemuan, pasti ada nasihat yang saya sematkan untuknya dibawa pulang dan diamalkan. Senang rasanya ketika ilmu yang saya pelajari selama di pesantren, bisa menjadi jalan kebaikan bagi orang lain.

Suatu saat, saya penasaran mengapa Wendy tidak pernah mengajak ke rumahnya, atau paling tidak untuk mengaji. Dulu pernah saya mengantarnya pulang, tapi sebatas gang. Maka di hari Sabtu pagi, saya berkunjung ke rumahnya.

Hanya beberapa rang yang saya tanyai untuk mempeoleh informasi rumah Wendy. Meski terpencil, tak sulit untuk sampai ke rumahnya. Gubuk bambu yang miring, masih berfondasi sebongkah batu sebagai dasar panggung. Rumah itu bisa dikatakan hampir tidak layak huni. Dari luar tercium bau amis dan (maaf) bau kotoran. Benarkah ini rumah sahabat saya? Tidak lama, Wendy keluar dari dalam sambil membawa seonggok kain dan segera memasukkannya ke dalam ember karena menyadari kedatangan saya.

Saya mengerti sekarang, kenapa ia enggan mengajak ke rumahnya. Setiap pagi ia harus memandikan ibunya yang telah renta dan sudah tak bisa berbuat apa-apa lagi. Dimulai makan-minum, beberesih hingga menidurkan, Wendy yang mengerjakan. Sangat wajar jika kekhawatiran tidak bisa melayani tamu ada di benak pikirannya.

Suatu siang, ketika ada acara pameran di salah satu gedung di Bandung, Saya dan Wendy duduk paling depan karena ada pemaparan tentang haji dan umrah. Yang paling menarik hati kami adalah doorprize untuk tiga orang tiket umrah gratis. Wendy berbisik pada saya, “Doakan ya, Saya ingin mengaji di depan Kakbah,” tiba-tiba saja hati saya gerimis.

Kupon dibagikan, saya nomer 9 sedangkan Wendy nomer 7. Dua tiket telah ditemukan pemiliknya, tinggal satu lagi.

Pembawa acara membuka kertas nomer undian sambil memberikan bocoran dengan menyebutkan ciri-ciri nomer tersebut. Ada kemiripan, sebab orang kata nomer 9 dan 7 adalah nomer keberuntungan. Tapi Allah SWT memilih nomer 7. Saya sempat sedih, tapi kemudian saya mawas diri. Wendy memang layak mendapat undangan ke Tanah Suci. Ia lebih layak mendapatnya karena sikap berbakti pada ibunya.

Saya yakin Wendy memperoleh hadih umrah karena rida ibunya. Dibanding saya yang jangankan seminggu sekali, sebulan sekali pun kadang tak sempat meluangkan waktu khusus untuk ibu. Saya benar-benar mendapat hikmah luar biasa dari kisah sahabat saya itu. (Haris Abdullah)

LEAVE A COMMENT