. . .
  • Jl. Gegerkalong Girang No.67 Bandung
  • 022 - 2006655
  • Jl. Gegerkalong Girang No.67 Bandung
  • 022 - 2006655

Menjadi Pribadi Bersyukur

Setiap manusia berawal dari sperma yang mampu bersaing dengan ratusan juta sperma lainnya, yang diproduksi oleh alat reproduksi ayah. Alhasil, sperma yang terlebih dahulu menemui sel telur di rahim ibu, yang akan dibuahi untuk selanjutnya tumbuh kembang menjadi janin. Setelah sembilan bulan, sang janin hadir di dunia melalui proses kelahiran.

Menurut catatan kependudukan dunia, bumi sekarang ini sudah dihuni sekitar 70 miliar manusia dari seluruh negara. Nah, yang menjadi hal unik untuk dibahas adalah dari semua manusia tersebut, masing-masing memiliki perbedaan mutlak yang bisa diidentifikasi, sehingga satu sama lain tidak tertukar. Subhanallah.

Luar Biasa Penciptaan Manusia

Keunikannya tidak berhenti di situ. Selain keunikan masing-masing, ternyata Allah juga menyempurnakan dan menganugerahkan ratusan tulang dengan arsitektur yang kompleks, dilengkapi otot-otot yang terkoodinasi dengan otot lainnya, beserta serabut saraf yang berfungsi umenghadirkan daya gerak dan kepekaan terhadap nyeri dan rasa. Semakin luar biasa karena ditopang juga oleh kerja jantung yang berdenyut sebanyak 36.000.000 kali per tahun, dengan daya dan kapasitas memompa sebanyak 2,7 juta liter darah yang dialirkan ke saluran arteri, vena, dan kapiler sepanjang 90.000 kilometer.

Informasi ini merupakan catatan mengesankan bagi kita sebagai makhluk-Nya tersebut, sekaligus memberikan gambaran kepada kita, betapa Allah memberikan kesempurnaan dan anugerah sangat besar. Anugerah yang bisa kita temui di dalam diri yang paling dekat dengan kita, yaitu kita sendiri.

Pentingnya Bersyukur

Baginda Rasulullah saw meneladankan sikap sederhana namun sangat mendalam sebagai penghargaan atas semua itu. Yaitu, sebuah sunnah berupa doa, “Ya Allah, sebagaimana Engkau telah membaguskan rupaku maka baguskanlah akhlakku” yang kita lakukan saat bercermin. Ada kedalaman apa antara doa tersebut dengan dengan aktifitas bercermin?

Saat bercermin kita melihat diri sendiri, yaitu makhluk Allah yang telah disempurnakan dan dianugerahkan tadi. Saat bercermin, makhluk itu sedang berhadapan dengan kita, tepat di depan kita. Semestinya kita teringatkan terus akan kemahaan-Nya.

Namun sayang, kita seringnya lupa terhadap kesempurnaan dan anugerah Allah itu. Padahal, Allah telah mengukur dan menakar manusia dengan takaran tepat dan seimbang, sehingga manusia mampu aktif dan produktif sepanjang masa hidupnya. Atas kemampuan ini, maka Allah mengambil pertanggungjawaban amal kita di dunia ini.

Semoga kita tidak termasuk ke dalam golongan orang yang mendustakan nikmat-Nya. Mari kita tadaburi seluruh nikmat Allah dengan jalan tadzakur dan tafakur, agar hari-hari kita terkoneksi dengan-Nya semata. Semoga juga tulisan ini bisa menjadi alarm bagi kita untuk menumbuhkan buah rindu yang didedikasikan untuk-Nya semata. Aamiin. (Rodli M. Fathan)

LEAVE A COMMENT