. . .
  • alan Gegerkalong Girang No.67, Kec. Sukasari, Kota Bandung
  • 022 200-6655

Madyan dan Praktik Kekufurannya

“Dan kepada (penduduk) Madyan (Kami utus) saudara mereka, Syu´aib. Ia berkata: “Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tiada Tuhan bagimu selain Dia. Dan janganlah kamu kurangi takaran dan timbangan, sesungguhnya aku melihat kamu dalam keadaan yang baik (mampu) dan sesungguhnya aku khawatir terhadapmu akan azab hari yang membinasakan (kiamat)”. (Q.S. Hud/11: 84)

Madyan adalah sebuah daerah yang terletak di dekat laut mati yang berbatasan dengan negeri Hijaz. Penduduknya ada dan menyebar di sana. Mereka hadir tidak jauh waktunya dengan kejadian lenyapnya penduduk Sodom yang Allah azab karena berbuat durhaka kepada-Nya karena menentang Rasulullah yang Allah utus kepada mereka.

Nenek moyang penduduk Madyan beriman kepada Allah melalui millah Nabi Ibrahim a.s. Millah ini mereka pegang erat sejak masa awal perjuangan Nabi Ibrahim, tepatnya ketika Nabi Ibrahim mendapatkan hukuman (eksekusi) mati dengan jalan dibakar hidup-hidup. Namun mereka tidak gentar walau ancaman serupa akan mereka dapatkan. Keyakinan tauhid yang telah terpatri dalam akal dan bertahta dalam jiwanya mendesak mereka untuk meraih cita-cita tertinggi yaitu hidup dalam kemuliaan atau rela meninggal dalam kesyahidan.

Seiring perjalanan waktu, keyakinan yang menjalar kuat kian melemah. Iblis laknatullah mampu menjerembabkan mereka ke dalam lembah kehinaan. Ia mampu menyesatkan mereka dengan menawarkan perkara bathil yang dijadikan media perantaraan penghambaan (kepada Allah). Penduduk Madyan pun selanjutnya melakukan praktik penghambaan dengan jalan demikian.

Seandainya mereka mau berpikir kritis, tentu penyesatan ini bisa dihindarkan. Namun sayang, akal mereka telah terpenjara dengan pola pikir materialis. Keyakinan kepada Yang Ghaib (Allah dan malaikat) terus tergerus. Yang tersisa tinggallah daya nalar yang lemah. Tatkala Iblis menawarkan Aikah sebagai berhala, dengan serta merta mereka terima tanpa reserve.  Padahal Aikah hanyalah sebuah sebuah pohon (di dalam hutan) yang dikelilingi semak-semak rindang. Begitulah sepak terjang Iblis yang senantiasa tidak berkenan bila manusia mampu menjalankan penghambaannya dengan benar.

Akar yang buruk menghadirkan batang dan buah yang buruk. Penyembahan terhadap selain Allah (baca: penyembahan aikah) tidak memberikan apapun kecuali profil diri dan masyarakat yang berorientasi kepada kepuasan pribadi. Mereka menjadikan hawa nafsu sebagai ilahnya. Sehingga segala daya dan upaya mereka lakukan guna meraih keuntungan semata. Melalui modal dan usaha yang minimal, mereka bermimpi besar mendapatkan hasil yang maksimal.

Dengan demikian, penduduk Madyan menjadi terbiasa dengan berbagai praktik kecurangan. Bahkan telah menjurus kepada upaya-upaya kriminal. Tidak sedikit kafilah dagang yang harus rela kehilangan harta benda bahkan nyawa karena dirampas dan dibegal (terlebih daerah Madyan berada di pusat perdagangan dunia saat itu yaitu negeri Syam). Sehingga para niagawan sangat  dilematis. Bagaikan makan buah simalakama. Bila tidak berdagang tidak ada penghasilan, sedangkan bila berdagang sama saja dengan sengaja mengantarkan harta dan nyawa untuk diambil dengan cara kasar.

Kecurangan dan tindak kriminal tidak hanya berlaku kepada orang tak dikenal. Dalam kegiatan muamalah sesama mereka pun kecurangan dipraktikkan dengan jalan riba dan mengurangi timbangan. Harga diri dan kepedulian sudah tidak dipentingkan. Yang ada adalah motivasi kuat untuk meraih keuntungan yang brilian.
Esensi perniagaan sebagai syari’at mewujudkan budaya ta’awun (saling tolong-menolong) telah hilang. Yang nampak adalah upaya saling sikut dan saling serang untuk menjadi satu-satunya pemenang. Semua sibuk mengurusi urusan masing-masing. Dampaknya, kehidupan sosial-masyarakat jauh dari rasa tentram dan nyaman.

Kepada masyarakat demikian Allah mengutus utusan-Nya. Nabi Syu’aib dihadirkan untuk mengeluarkan mereka dari kesesatan, agar kembali kepada fitrah diri yang sejati. Dalam rangka mengawal tugasnya, Allah menganugerahinya kemampuan komunikasi dan pendekatan yang persuasif. Melalui Nabi Syu’aib inilah penduduk Madyan dihadapkan kepada tawaran untuk meraih takdir terbaiknya. Wallahu a’lam. (Ustaz Edu)

LEAVE A COMMENT