. . .
  • alan Gegerkalong Girang No.67, Kec. Sukasari, Kota Bandung
  • 022 200-6655

Bersyukurlah maka Kita Bahagia

Setiap hari kita diberi kesempatan memanfaatkan waktu selama 24 jam oleh Allah SWT. Cara memanfaatkan waktu tersebut sangat beragam, tergantung dari kebiasaan kita. Beruntunglah bagi mereka yang bisa menggunakan “jatah” 24 jam sehari tersebut dengan aktivitas yang positif.

Lalu, bagaimana jika waktu tersebut dimanfaatkan dengan aktivitas yang penuh dengan kesia-siaan? Sungguh kita termasuk orang yang merugi jika tidak mampu memanfaatkan fasilitas waktu yang diberikan Allah.

Padahal, waktu yang Allah berikan itu adalah salah satu hal penting untuk disyukuri. Sebagaimana firman-Nya dalam salah satu ayat di surah ar-Rahman [55], yang artinya, “Maka Nikmat Tuhan-Mu manakah yang akan kamu dustakan?” Pun halnya dengan waktu yang Allah berikan kepada kita. Sangat tidak elok untuk disia-siakan.

Hakikat Syukur
Tidak salah jika terkadang kita merasa hidup ini hampa. Merasa tidak ada artinya. Itu karena, kita belum memanfaatkan secara maksimal potensi waktu yang diberikan-Nya. Kita belum sepenuhnya bersyukur kepada Allah atas karunia yang telah Ia berikan. Lebih banyak mengeluhkan atas apa yang belum dimiliki, dibandingkan dengan yang telah Allah berikan. Anggapan kita jika bahagia, maka kita akan bisa bersyukur.

Lantas, ukuran bahagia bagi manusia adalah memiliki harta, tahta, serta hidup serba berkecukupan. Jika hanya mengejar kebahagiaan berupa materi, tentu hidup ini tidak tenang. Setiap hari disibukkan dengan aktivitas yang terkadang jauh dari kebaikan. Berusaha agar diri menjadi terbaik di hadapan makhluk, atau mencari penilaian dari makhluk yang hatinya mudah dibolak-balik oleh Allah SWT. Padahal, bisa saja hari ini orang senang dan bangga atas prestasi yang kita raih, namun keesokan harinya mudah saja untuk berbalik rasa.

Disinilah kita harus berusaha memahami hakikat syukur. Syukur merupakan cara kita berterima kasih kepada Allah atas semua karunia yang telah Ia berikan. Wujud syukur dapat berupa memanfaatkan potensi diri yang telah Ia berikan.

Misalnya, kita diberikan potensi menjadi pembicara yang baik di depan umum, maka manfaatkanlah potensi tersebut dengan menyampaikan dakwah kepada orang lain. Dengan dakwah kita tersebut, kita terus berupaya memperbanyak syukur kepada Allah, atas izin-Nya kita bisa menjadi jalan mengajak kebaikan kepada orang lain.

Kemudian, jika kita merasa belum memiliki kemampuan lebih terhadap suatu bidang, kita juga harus tetap bersyukur karena Allah. Kehadiran kita pun adalah potensi. Tidak ada yang sia-sia atas apa yang terjadi di muka bumi ini. Jalannya adalah kita terus belajar menempa diri menjadi manusia yang disayang oleh-Nya. Yakni dengan memperbanyak syukur.

Kiat Bersyukur
Cara agar kita terus bersyukur kepada Allah, adalah:

– Yakinkan dalam diri bahwa kita adalah manusia terbaik yang dilahirkan di muka bumi ini.

– Belajar untuk terus meningkatkan kualitas diri, dengan tujuan meraih rida Allah SWT.

– Memperbagus hubungan sosial dengan sesama manusia.

– Jika melakukan kesalahan segera PDLT yaitu Perbaiki Diri, Lakukan yang Terbaik.

– Memiliki target dan cita-cita yang ingin dicapai.

– Menikmati setiap proses episode kehidupan yang telah ditakdirkan oleh Allah. (Desi Hardianti)

LEAVE A COMMENT