. . .
  • alan Gegerkalong Girang No.67, Kec. Sukasari, Kota Bandung
  • 022 200-6655

Bahayanya “Jeruk Makan Jeruk”

“Mengapa kamu mendatangi jenis lelaki di antara manusia, dan kamu tinggalkan istri-istri yang dijadikan oleh Tuhanmu untukmu, bahkan kamu adalah orang-orang yang melampaui batas.” (QS. asy-Syu’arâ’ [26]: 165-166)

Mencintai adalah berkah sekaligus anugerah yang tidak ternilai harganya. Namun, di balik keindahan dan kemuliaannya, cinta pun dapat menjadi bencana dan sumber malapetaka jika manusia tidak menempatkannya pada tempat yang tepat, yang tidak selaras dengan fitrah. Satu bentuk prahara cinta adalah ketika seseorang salah menempatkan objek dari yang dicintainya.

Dalam konteks cinta erotis, sangat wajar jika seorang laki-laki mencintai perempuan, demikian pula sebaliknya. Kemudian keduanya berusaha menyalurkan hasrat cintanya tersebut berdasarkan nilai-nilai luhur yang ditetapkan agama (lihat QS. ar-Rûm [30]: 21). Namun, kecintaan ini menjadi tidak wajar dan ditentang agama ketika seorang lelaki mencintai lelaki lainnya, dan seorang perempuan mencintai perempuan lainnya. Kemudian mereka memperturutkan hasrat tersebut dalam aktivitas seksual, baik liwath (gay) bagi laki-laki maupun sahaq (lesbian) bagi perempuan.

Keduanya termasuk penyelewengan seksual yang sangat berat karena menyalahi sunnatullah dan fitrah manusia sebagai makhluk yang dimuliakan. Jangankan sampai berhubungan sesama jenis, melihat aurat sesama pun, baik laki-laki maupun perempuan sudah dilarang. Itulah mengapa, al-Quran dengan sangat tegas memperingatkan umat manusia agar tidak mengulangi peristiwa yang terjadi pada kaum Nabi Luth. (Lihat misalnya QS. Hud [11]: 82-3; QS. asy-Syu’arâ’ [26]: 165-6; QS. al-Anbiyâ’ [21]: 74)

Setelah menerima wahyu tentang azab yang Allah Ta’ala timpakan kepada kaum Nabi Luth, Rasulullah saw mengungkapkan rasa khawatir sekiranya peristiwa tersebut menimpa umat Islam sepeninggal beliau. “Sesuatu yang paling aku takuti terjadi atas kamu adalah perbuatan kaum Luth dan dilaknat orang yang memperbuat seperti perbuatan mereka itu.” Beliau mengulangnya sampai tiga kali, “Allah melaknat orang yang berbuat seperti perbuatan kaum Luth.”  (HR. Ibnu Majah, at-Tirmidzi, dan al-Hakim)

Apa yang dikhawatikan Nabi saw sangat beralasan. Ketika zina dan homoseks sudah merajalela, aneka kemudharatan akan tumbuh subur di masyarakat. Mulai dari yang kecil hingga yang besar, mulai dari rasa bersalah yang terus menghantui, hancurnya institusi perkawinan, rusaknya hubungan sosial, tercerabutnya nilai-nilai moral, merajalelanya aneka penyakit mengerikan; semacam AIDS, hingga ditimpakannya aneka bencana.

Mengapa ada orang yang mengalami penyimpangan seksual dan bagaimana cara mengubahnya? Perilaku penyimpangan seksual selalu ditemukan hampir pada setiap generasi. Dengan demikian, homoseks bukan merupakan penyakit khas zaman modern. Setidaknya ada tiga faktor yang menyebabkan terjadinya penyimpangan seksual, khususnya homoseks, lesbi, atau biseks.

Pertama, adanya struktur genetika yang mengarah pada penyimpangan seksual dengan ditemukannya kromosom Xq21. Bagi orang beriman, kecenderungan untuk menyukai sesama jenis karena faktor ini, akan dimaknai sebagai ujian. Hal ini bisa diubah dengan kekuatan doa. Apabila doa dipanjatkan dengan tulus dan penuh keyakinan pada Allah, gen ini bisa berubah bahkan tidak aktif lagi. Sesungguhnya, doa orang beriman mampu meningkatkan neuroendrokin yang mengubah ekspresi gen.

Kedua, pola asuh yang kurang tepat pada fase tumbuh kembang. Pola asuh yang diterapkan orangtua sangat memengaruhi aspek psikologi perkembangan seorang anak. Apabila seseorang dikondisikan menjadi androgini (kepria-priaan bagi perempuan), atau menjadi feminin (untuk pria), konsep tubuhnya akan terdorong pada kecenderungan yang diberikannya itu.

Laki-laki bisa jadi berperan sebagai perempuan, atau sebaliknya perempuan menjadi kelaki-lakian. Pola pengasuhan yang benar dapat dilakukan dengan menempatkan anak sesuai fitrah dan tahapan perkembangannya. Oleh karena itu, sangat tepat apabila orangtua membebaskan anak untuk memiliki prefensi sendiri, tentu saja dengan disertai pengawasan dan bimbingan yang tepat.

Ketiga, peran gen sosial. Richard Brodie dan Richard Dawkins menyebutnya dengan istilah “meme”. Meme diduga sebagai sifat yang ditularkan karena kebiasaan. Perilaku ini ditularkan tidak hanya karena faktor lingkungan, tetapi juga karena faktor interaksi antarmanusia yang menular sampai ke tingkat biologis (genetika). Gen sosial ini dapat menular dan mengubah sistem pengambilan keputusan seorang manusia.

Itu sebabnya dalam metode “Tombo Ati” disebutkan bahwa “wong kang saleh kumpulana”. Artinya, berkumpul dan dekatilah orang-orang saleh. Dengan kesalehan mereka, selain tertular perilaku positifnya, seseorang pun akan tertular pula materi genetiknya. Perubahan akibat pengaruh lingkungan ini sangat signifikan, bukan hanya dari pola pikir dan tataran konseptual saja. Tetapi juga, sampai pada hal-hal yang bersifat fisik. Seseorang yang sering dielus-elus, termasuk oleh sesama jenis, prefensi rasanya bisa berubah, yang mana peran hipotalamus, posisi pengambilan keputusan di otak, bintik-bintiknya mengalami perubahan. [ↄ] (Dr. Tauhid Nur Azhar, M.Kes)

LEAVE A COMMENT